“Setelah gue inget-inget.” Akaza mengunyah burgernya lalu segera menelannya, menatap Sanemi dengan serius. “Gue satu SMA sama Giyuu,” lanjutnya.

Semua anak Parlemen terlebih Sanemi langsung menatap ke arah Akaza dengan serentak, berbarengan. Membuat Akaza langsung cegukan sebentar dan meminum soda madunya, lalu meringis menatap gak enak ke arah semuanya terutama Sanemi.

“Telat banget anjir baru bilang.” Celetuk Obanai menatap Akaza dengan sinis dan Akaza lagi-lagi hanya meringis.

“Terus kalo satu SMA emang kenapa?” Tanya Kyojuro. Karena ia merasa itu bukan suatu fakta yang menarik untuk dibahas. Semua orang bisa saja pernah satu sekolah dan itu bukan wow fakta layaknya 7 keajaiban dunia.

“Gak ada apa-apa sih. Cuma gue baru inget aja kalo ini tuh Giyuu yang sama soalnya gue sama dia beda jurusan tapi satu angkatan sih.” Jawab Akaza santai, melirik sedikit ke arah Sanemi.

Sanemi yang lagi mencocol kentang goreng ke saos langsung mendengus. “Apaan?” Tanyanya sengak yang langsung digelengi kepala oleh Akaza. “Gue udah tau, Giyuu pernah bilang katanya satu SMA sama lo. Kata dia lo keren banget waktu main basket, mau minta ajarin katanya.”

“Bentar.” Douma menegak sodanya yang tersisa tinggal sedikit. “Dari nada lo nih, gue tau nih. Lo cemburu ye?”

Sanemi tidak menjawab hanya berdecak lidah sambil menggigit kentang gorengnya kembali fokus pada makanannya dan mendengus setelah mendengar suara tawa teman-teman terlebih lagi Akaza, si pusat yang dicemburuin Sanemi. Memang benar yang dikatakan Douma bahwa dirinya cemburu, Giyuu sendiri pun tahu. Namun waktu itu Giyuu hanya tertawa sambil menggoda Sanemi. Katanya, “Ngapain cemburu? Kan si Akaza udah punya pacar masih langgeng kan sampai sekarang sama Koyuki?”

Tapi sesungguhnya Sanemi tidak pernah sangka bahwa hubungannya bersama Giyuu akan sampai sejauh ini. Ia kira hubungannya bersama Giyuu hanya akan berhubungan dengan nafsu tanpa melibatkan perasaan. Namun lama-kelamaan Sanemi sadar bahwa dirinya menyukai Giyuu. Senyummya yang tenang, mata biru lautnya yang selalu menatapnya dengan mendamba, tawanya yang renyah (yang Sanemi jarang dengar), juga kebebasan yang diberikan Giyuu untuknya. Semuanya Sanemi bandingkan dengan Kanae dan tentu saja berbeda 180 derajat. Giyuu tidak seperti Kanae, begitu juga sebaliknya.