Namanya Shinazugawa Sanemi. Rasanya tidak ada yang tidak tahu siapa sosok itu. Kekasih dari Kocho Kanae, perempuan populer karena kecantikannya dari jurusan sebelah. Giyuu hanya mendapat percikan beruntung karena dirinya adalah teman dari adik Kocho Kanae, Kocho Shinobu. Karena hubungan itu lah Giyuu jadi mengenal Kanae serta kekasihnya itu (yang Giyuu baru tahu satu angkatan dengannya). Bisa dibilang lingkaran pertemanan Kanae dan Shinobu ini cukup luas, lagi-lagi Giyuu jadi kena percikan menjadi populer walau dengan embel-embel sebagai teman dekat Shinobu. Giyuu sendiri bingung mengapa ia bisa berteman dengan Shinobu yang ramah padahal sifat Giyuu berbanding terbalik dengannya, bicara seperlunya dan irit ekspresi.
Tapi balik lagi membahas Shinazugawa Sanemi. Lelaki itu juga berbanding terbalik dengan Kanae. Giyuu sering memperhatikan Sanemi, bahwa lingkaran pertemanan lelaki itu juga luas dan lebih bebas. Sesungguhnya aura Sanemi cukup seram jika benar-benar tidak mengenalnya, walau sudah mengenal pun masih terasa seram tapi jelas terlihat berbeda sebelum dan sesudah mengenalnya. Namun dipikir-pikir jika Giyuu menjadi Kanae dia juga akan tidak menolak Sanemi. Karena lelaki itu memang tampan walau wajahnya ada bekas luka namun itu tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
Ah mikir apa sih gue ini. Giyuu menggelengkan kepalanya kecil. Ini semua karena penampilan Sanemi malam ini. Giyuu sedikit menyesal mengiyakan ajakan acara kumpul-kumpul (berujung sedikit pesta kecil-kecilan) karena sudah pasti ia akan melihat lingkaran pertemanan Kanae dan Sanemi yang luas bebas itu. Ini sama sekali tidak cocok untuk Giyuu yang tidak terlalu pandai bersosialisasi. Sekali lagi Giyuu mempertanyakan kok bisa dirinya berteman dekat dengan Shinobu?
Penampilan Sanemi kali ini memang bikin Giyuu sedikit salah fokus dan salah tingkah (jangan sampai ketahuan siapapun). Karena lelaki itu memakai baju yang memperlihatkan dada kekarnya. Demi Tuhan, Giyuu tidak akan menolak sama sekali tapi akal sehatnya masih berjalan alias mengingat bahwa Sanemi adalah milik Kanae. Tapi siapa yang bisa fokus lagi sih monyet kalo orangnya aja duduk di hadapan elu gini, Yuu. Ini mah bikin gue sesek napas tiap saat iya. Batin Giyuu menggerutu karena Sanemi benar-benar duduk di hadapannya sekarang.
“Ayo puter lagi botolnya kocak. Please Sanemi yang kena please.” Ujar Sabito sambil tertawa-tawa dan dibales dengusan Sanemi yang cukup keras.
Sebenernya Giyuu ingin sekali menghindari permainan ini. 7 minutes in Heaven. Ini siapa pula yang ngide awal main game ginian? Mau memecah belah pertemanan apa gimana sih? Boleh gak sih Giyuu kabur aja? Giyuu melihat Kanae hanya tertawa saat mendengar celetukan Sabito yang mengejek itu dan tak lama kemudian Kanae memutar botol kosong yang di meja untuk mencari target lagi dalam permainan konyol ini.
Sayangnya, dewi keberuntungan tidak berpihak pada Giyuu karena botol itu berenti tepat menunjuk dirinya dan … Sanemi. Sekali lagi Sanemi. Sanemi. Sanemi. Sanemi. Nih Giyuu sampai nge-bold, nge-italic, nge-garis nama Sanemi karena sekali lagi ini seorang Sanemi. Ini mah Giyuu bisa mati muda, mati sekarang juga boleh.
“Eh bangsat.” Celetuk Giyuu dengan reflek langsung membuat seluruh orang menoleh padanya.
“Ini gue ketiga kalinya denger lu misuh, Gi.” Ujar Shinobu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sementara Giyuu hanya tersenyum kagok mendengar ujaran itu.